krisis space server dan listrik dunia

Pusat data/data center, tulang punggung web, menghabiskan energi yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pengguna internet [courtesy : the New York Times]

Adalah sebuah mitos tentang internet, bahwa semua aktifitas berjalan secara virtual/maya/tidak nyata/unreal, dimana semua data akan disimpan kedalam ‘cloud’, media penyimpanan berbasis online yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun. parahnya adalah, kebanyakan kita menganggap seakan-akan ‘cloud’ itu sesuatu yang benar-benar virtual, tidak nyata. Itulah dogma yang (mungkin) sudah tertanam sangat kuat pada setiap netter.

Akibatnya, banyak dari kita yang dengan ‘gampang’ meng-upload file, entah itu image, video maupun data dengan ukuran yang besar ke media-media sosial semacam facebook, youtube, kaskus, dll, tanpa dikompres terlebih dahulu… kita juga terkadang dengan gampang mengirim imel dengan attachment ber-mega byte ke belasan, puluhan bahkan ratusan alamat sekaligus. Di sisi lain kita membiarkan inbok kita penuh dengan imel-imel berukuran besar yang mungkin sampai matipun imel-imel tersebut akan tetap ada…karena itu semua hanya ada di dalam kabel-kabel internet. Tidak akan mengganggu aktifitas real kita sehari-hari. Anggapann kita.

Padahal di belakang aktifitas virtual tersebut ada sebuah kenyataan yang mungkin akan sangat mengejutkan. Sebagai gambaran, di awal tahun 2006 saja menurut the New York Times, facebook memiliki pusat data seluas 12m x 16m untuk memback-up kebutuhan user yang kala itu masih dikisaran 10 juta pengguna. Jika sekarang menjadi 1 miliar pengguna maka bisa dibayangkan berapa luas pusat data tersebut saat ini?

Deretan Rumah genset berwarna putih di pusat data Facebook di Prineville, Oregon-US. Bertugas memastikan pelayanan kepada konsumen tetap berjalan saat terjadi kesalahan power [courtesy : the New York Times]

Sebenarnya masalah sesungguhnya bukan pada kebutuhan ruangan untuk pusat data tersebut akan tetapi pada kebutuhan daya listrik yang diperlukan agar aktifitas per-fesbukan tetap terjaga. menurut data dari the Times, untuk mengaktifkan pusat datanya, facebook membutuhkan daya sekitar 60 Megawatt…

“eits, skip… skip.. skippp… berapa daya PLN rumah kita ? rata-rata untuk negara berkembang kebutuhan daya per-rumah antara 900-1200 watt saja. Dengan kata lain, daya yang dipakai pusat data facebook cukup untuk menghidupkan 60 ribu rumah di Indonesia.”CMIIW

Itu baru dari satu website bernama ‘Facebook’, lalu berapa daya yang dibutuhkan oleh raksasa Google untuk menjalankan pusat data mereka, 300 Mega Watt pemirsa. Luar biasa, padahal tidak ada alat berat yang mereka jalankan, hanya ‘data’ yang bisa dipindah-pindah dengan satu klik-an mouse. Terus, ngomong-ngomong berapa kebutuhan listrik untuk menghidupkan pusat data di seluruh dunia ? data temuan dari the Times menyebutkan sekitar 30 Giga Watt atau setara dengan 30 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Dimana 1/4-1/3nya ada di negeri paman sam.

“survei di amerika menunjukan bahwa terjadi lonjakan yang sangat fantastis pada jumlah pusat data disana, dari 432 pusat data di tahun 1998 melonjak menjadi 2094 pusat data di tahun 2010.”

Salah satu pusat data di Ashburn, Virginia-US. Tampak di depannya sebuah power plant yang bertugas memenuhi kebutuhan energi. Secara kasar, kebutuhan daya pusat data di seluruh dunia setara dengan 30 pusat pembangkit bertenaga nuklir. [courtesy : the New York Times]

Sayangnya, dari jumlah kebutuhan daya tersebut hanya 6-12% saja yang benar-benar dipakai. Sisanya adalah untuk back-up (njagani) jika sewaktu-waktu ada lonjakan traffic pada server mereka. Karena jika itu terjadi, maka dikhawatirkan pusat data akan ‘crash’ dan user pun kecewa. Perlu diingat bahwa apapun aktifitas mouse kita akan berpengaruh pada perputaran drive di pusat data, meskipun itu hanya satu klik kanan atau klik kiri. Angka 6-12% ini sendiri diperoleh dari studi atas 20 ribu server dari 70 data center, cukup mewakili lahh… kita mungkin akan bilang, bahwa itu pemborosan. Membiarkan energi sebesar 80% dari total kebutuhan hanya untuk menjaga posisi ‘idling’ server terlihat seperti sia-sia, Tapi bagi mereka bisnis is bisnis, kepuasan pelanggan diatas segala-galanya…

Tipikal diagram skematik komponen-komponen utama pada sebuah pusat data. [courtesy : the New York Times]

Masalah lain adalah, selain menggunakan daya dari pembangkit listrik, mereka juga memakai belasan genset untuk back-up daya. Dimana ketika genset dijalankan karena (misalnya) daya dari pembangkit listrik padam, masalah polusi udara dan kebisinganpun muncul kemudian. Bahkan dalam waktu 3 tahun terakhir ini saja Amazon.com telah melanggar regulasi di virginia/US sebanyak lebih dari 24 kali pelanggaran akibat pemakaian genset yang tidak sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku disana.

satu dari enam genset dalam satu ruangan. Kombinasi diantaranya mampu menyediakan kebutuhan listrik untuk 7000 rumah di US (klo di indonesia bisa berapa ya ?)[courtesy : the New York Times]

Hal tersebut di atas, yaitu membengkaknya kuantitas dan kapasitas pusat data dunia, memang cukup manusiawi, selain apa yang disampaikan pada paragraph pertama, dari EMC & International Data Corp. menemukan bahwa setiap harinya, aktifitas virtual di seluruh dunia menghabiskan space server sebesar 1.8 triliyun GB. Lha bayangin aja, jika New York Exchange saja tiap harinya meng-upload data ke server sebanyak 2000 GB, sementara untuk menyimpan satu film 3d ke dalam ‘cloud’ itu butuh ruang server seluas 1 juta GB. masuk akal kan ?. dan dari total keseluruhan, 3/4-nya dihasilkan oleh user mainstream, user biasa bukan korporat. Ya… kek kita-kita ini…

Rak-rak server pada sebuah pusat data, berperan sebagai ‘Cloud’ di dunia maya. Menghabiskan energi listrik yang sangat banyak. Yang sebagian besarnya hanya disia-siakan. [courtesy : the New York Times]

So, mari lebih bijak dalam beraktifitas di dunia Maya, karena bagaimanapun dunia tersebut untuk saat ini (masih) ditenagai dengan bahan bakar fosil yang jumlahnya makin menipis dari waktu ke waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s