Kampus Tempat Anda Berjuang

Kampus Tempat Anda Berjuang

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika bertemu mahasiswa, mengingatkan dengan perjuangan saya dkk dahulu. Di tahun 1966, kami mahasiswa saat itu bergerak menyuarakan “Trikura”, dimana salah satu sahabat saya, sdr. Arif Rahman Hakim, tertembak di Jl. Medan Merdeka Utara. Jaket Hijau, Kuning, Biru, bersatu tuk berjuang.

Ketika dahulu kampus ini (UNJ) masih bagian dari FKIP UI tahun 1962, sampai berproses menjadi IKIP dan akhirnya UNJ, itu juga perjuangan.

Selama itu saya telah dipenjara selama 17 kali, bahkan saya ditendang dari S2 oleh pemerintah karena mengkritik pemilu 1977 saat itu.

Lalu mengapa saya perlu ceritrakan ini diawal? Jadi seperti ini kawan.

Ibadah itu tidak hanya di dalam masjid, tapi di luar masjid lebih banyak lagi ladang kita beramal dan berdakwah, memperbaiki ummat.

Saya saat datang kemari, secara random membuka tafsir Al-Quran, lalu terbukalah surat Al-lukman yang bicara tentang pendidikan. Juga teringat kisah pemuda Al-Kahfi yang tertuang dalam surat Al-Kahfi. Serta surat Ar-Rahman yang dibacakan oleh imam saat sholat subuh.

Tiga surat ini; Al-Lukman, Al-Kahfi, dan Ar-Rahman, merupakan surat yang sangat dahsyat bagi para pemuda, khususnya untuk anda para mahasiswa.

Terkait pendidikan, jangan jadikan kampus itu sebagai tempat cari title atau gelar, anda bisa lihat bagaimana anggota dewan saat ini, cari kedudukan atau memperjuangkan rakyat?

Jadi jadikan kampus sebagai tempat anda berjuang, berjuang untuk dapat IP tinggi, Toefl 560 agar bisa kuliah di luar negeri, buat penelitian, menulis jurnal ilmiah, disiplin waktu, menikah dengan seseorang yang satu gelombang (visi) dengan anda. Bahkan seorang muslim harus kaya, karena harta merupakan kendaraan untuk mencapai kejayaan islam dan kendaraan untuk mengantar kita ke surga Allaah.

Niatkan semuanya semata-mata untuk memperjuangkan agama Allaah.

Anda harus tahu kawan, bahwa 10 SMP terbaik di Jakarta, 7 diantaranya dikuasai oleh SMP Non Islam, 3 sisanya adalah SMP Labschool Jakarta, SMP Labschool Kebayoran dan SMPN 115 Jakarta. Apalagi kita tahu bahwa Jakarta dipimpin oleh seseorang yang bukan Islam kawan.

Maka dengan kapasitas pendidikan tinggi, dapat anda gunakan untuk menguasai pendidikan itu sendiri, bahkan pemerintahan demi kepentingan islam.

Lalu selain ahli dalam pendidikan, anda juga harus jadi aktivis, menyuarakan islam (kebenaran), jangan hanya sibuk baca buku kuliah.

Saya dulu pernah berhadapan dengan menteri pendidikan karena merekomendasikan kebijakan rok panjang untuk perempuan di SMP Al-Azhar, yang memang pada zaman itu tidak diperbolehkan. Saya bilang ini aturan islam harus nutup aurat Pak, aturan pemerintah yang salah.

Dari pembahasan tadi, jika kita sambungkan dengan kisah pemuda Al-Kahfi, mereka juga menjadi aktivis di zamannya, melawan pemimpin dzalim, lalu saat kondisi terdesak, mereka berstrategi melarikan diri ke gua kahfi.

Maka jadikan kampus dan masjidnya sebagai gua kafhi, tempat untuk anda berstrategi memikirkan masa depan ummat, meninggalkan selaga hingar bingar dunia karena Allaah Ta’ala.

Saya ambil contohnya pada Masjid Salman Al-Farisi ITB, dimana ketika saya melakukan penelitian disana, 3/4 mahasiswinya telah berjilbab. Masjid itu bukan hanya sekedar masjid, tapi menjadi pusat berjalannya keilmuan islam dan lainnya. Itupun juga dulunya diprakarsai oleh seorang alumnus ITB yang ‘ditendang’ dari ITB, maka berat makna “berjuang” itu kawan.

Selain itu kita bisa ambil contohnya pejuang-pejuang kemerdekaan terdahulu, yang ketika mereka berjuang, tidak pernah lepas dari kalimat takbir, Allaahu Akbar.

Kalaupun anda salah dalam berstategi, kalah dalam persaingan, itu tak mengapa. Sebab kalah dalam perperangan, itu tidak berarti kalah dalam perjuangan kawan.

Dan dalam berjuang, kita juga harus senantiasa bersyukur, jangan terus mengeluh.

Mungkin selama ini kita kurang ajar dengan Allaah, banyak mengeluh seperti Allaah gambarkan di surat Ar-Rahman sebanyak 31x.

“Fabiayyi A’laa Irabbikuma Tukadziban”

Mana nikmat Tuhan yang engkau dustakan?

Lalu yang tak kalah pentingnya dalam berjuang, adalah bagaimana hubungan anda dengan ibu dan ayah.

Jangan tampakkan diri anda sebagai mahasiswa didepannya, tapi tampakkan diri anda sebagai anak yang patuh terhadapnya.

Mungkin anda pernah berbeda pendapat dengan ibu, bahkan anda menganalisis setiap persoalan yang terjadi.

Memang boleh jadi itu benar kawan, tapi apakah itu menjadikan anda pantas untuk melawan dan membatahnya? Apakah dulu ketika dia mengandung anda, dia pernah menganalisis seberapa perutnya akan membesar dan menahan rasa sakit?

Tentu tidak kawan, dia tetap memperjuangkan anda, sampai anda lahir dan Allaah pertemukan kita hari ini.

Jangan sampai perjuangan anda menjadi semakin berat, karena ibu meneteskan air mata akibat perilaku tidak baik anda.

Ketika anda lahir pula, siapa yang mengadzankan di telinga kanan anda?

Tentunya ayah anda bukan. Hayya A’lal Falah, suatu perkataan doa bahwa kita harus jadi pemenang dalam perjuangan ini kawan.

Maka yakinlah, bahwa pertolongan Allaah akan datang dari arah yang tak pernah anda duga.

Saya memang pernah masuk penjara sebanyak 17 kali, namun Allaah izinkan saya berhaji sebanyak 18 kali. Saya do’akan semoga anda juga bisa kesana suatu saat.

Sebagai penutup, jadilah mahasiswa yang tegak ibadahnya, cerdas akalnya, bersih hatinya, kuat jasmaninya dan erat silaturahimnya, itulah modal anda untuk berjuang kawan.

Disadur dari penceramah :
Prof. Dr. Arief Rachman (Kepala Sekolah Labschool Jakarta, Guru Besar UNJ, Duta UNESCO Indonesia)

Penulis:
– M. Syahnuryawan Jahja (Mahasiswa Psikologi FIP UNJ, 2013)
– Darwati Effendy (Mahasiswi Silvikultur FAHUTAN IPB 50)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s